Mads Johansen Lange


Beliau merupakan tokoh penting dari sejarah perkembangan Kuta. Mads Johansen Lange, adalah seorang pedagang berkebangsaan Denmark. Dia tidak saja pernah menguasai pelabuhan Kuta, menjadi syahbandar, tetapi juga menikahi gadis Kuta keturunan Cina. Makamnya pun masih ada di Kuta, di pinggiran Tukad Mati, By Pas Ngurah Rai Kuta.

Lange dilahirkan di Rudkobing Denmark 8 September 1807. Awalnya, Lange mengembangkan usaha dagangnya di Lombok bersama rekannya seorang Inggris kelahiran Denmark juga, John Burd. Pada perkembangan selanjutnya, Lange menetap di Tanjung Karang, sebuah pelabuhan di sebelah selatan Ampenan, sedangkan John Burd menetap di Canton (Cina).
Dalam pengembangan usahanya di Lombok, l.ange menjadi saingan berat George Peacock King, seorang pedagang Inggris. Karena ambisinya yang besar untuk memonopoli perdagangan di Ampenan, King diusir dari Lombok dan menetap di Kuta (Bali). Beberapa bulan kemudian King kembali lagi ke Lombok dan menempatkan dirinya cli bawah perlinungan di bawah Raja Mataram-Lombok. Sementara Lange mendapat perlindungan dari Raja Karangasem-Lombok.
Persaingan kedua pedagang ini sampai berbuah peperangan di antara kedua kerajaan. Peperangan ini berakibat kalahnya Raja Karangasem-Lombok. Mads Lange kemudian diusir dari Lombok. Karena diusir dari Lombok, Lange dengan kapal dagang kecilnya Venus, mendarat di Kuta. Di daerah inilah dia kemudian mengembangkan kembali usahanya. Dia harus melunasi hutang-hutang luar negennya yang beqitu besar.
Dengan ketekunan dan pintar bergaul dengan orang lokal, terutama dengan raja-raja di Bali, dia berhasil dalam jangka waktu pendek untuk menyusun kembali perdagangannya. Usaha dagangnya malah menjadi saingan berat dari kantor dagang Belanda di Kuta, De Nederlansche Handelsmaatschappij.
Tak cuma itu, Lange kemudian bisa merebut hati Raja Kesiman, I Gusti Gde Ngurah Kesiman. Dia mendapat kepercayaan yang luar biasa dari raja berpengaruh di kerajaan Badung itu. Malah dia ditunjuk sebasai syahbandar di pelabuhan Kuta. Lange pun bisa menjalin hubungan yang cukup baik dengan Dewa Agung Klungkung yang dianggap sesuhunan raja-raja Bali-Lombok. Kepercayaan besar yang diberikan Raja Kesiman memang sangat menguntungkan posisi Lange. Dia dapat memegang monopoli perdagangan seperti budak hingga uang kepeng Cina yang ketika itu menjadi mata uang yang paling banyak beredar. Kapal-kapal Lange pun terus bertambah dan pada waktu itu suudah mencapai 15 buah sehingga aktivitas perdagangannya juga sudah meluas sampai ke Asia.
Lange juqa memerankan politik standar ganda. Selain menjadi kepercayaan raja-raja Bali dia juga dipercaya menjadi Wakil Pemerintah Hindia Belanda di Bali. Dalam posisi inilah dia banyak berperan dalam perkembangan politik Bali. Bahkan, dengan politik diplomasinya Lange dapat dianggap berjasa dalam mewujudkan perdamaian antara raja-raja Bali dan Belanda pasca peristiwa Perang Kusamba, 24 -25 Mei 1849.
Tatkala pimpinan pasukan Belanda, Letkol V Swieten hendak menyerang Klungkung setelah berhasil menduduki Kusamba’ Lange menakut-nakuti Swieten dengan menyatakan di Klungkung telah berkumpul 33.000 pasukan yang siap membela Dewa Agung jika Belanda menyerang. Pasukan itu merupakan gabungan dari Tabanan, Badung, Gianyar, dan Mengwi. Belanda akhirnya menyurutkan langkahnya menyerang Klungkung. Lange dan sahabatnya, Raja Kesiman berhasil meyakinkan Belanda bahwa keinginannya menyerang Klungkung akan berakibat fatal.
Puncak dari perdamaian itu adalah ditandatanganinya. Perjanjian antara Belanda dan raja raja Bali di rumah Mads Lange sendiri di Kuta tanggal 13 Juli 1849. Walaupun perjanjian itu secara politis merugikan Bali, namun hasil yang dicapai saat itu tergolong maksimal.
Atas jasanya itu, Lange dianugerahi tanda jasa kehormatan yang tinggi yakni bintang Ridder in de Orde van de Nederlandsche Leeuw oleh pemerintah Hindia Belanda.

Status Lange sebagai pendatang sekaligus dekat dengan lingkaran kekuasaan tidaklah membuat Mads Johansen Lange berjarak dengan masyarakat Kuta. Apalagi posisinya yang sangat strategis sebagai syahbandar kepercayaan Raja Kesiman dan wakil pemerintah Hindia Belanda di Bali membuatnya membuatnya mendapat tempat yang istimewa di antara penduduk Kuta di abad ke-19 silam.
Almarhum I Ketut Peling BA dalam tulisannya berjudul Yavasan Pembangunan Desa kuta Suatu Inovasi yang dimuat dalam buku Menyambut Dasa Warsa Yayasan Pembangunan Desa Kuta menyebutkan Lange sampai mengawini seorang gadis’Kuta keturunan Cina yang bernama The Sang Nio. Putri Lange yang bernama Cicilie disebutkan kawin dega Raja Johor yang bergelar Abu Bakar.
Pada pertengahan abad ke 19, di Kuta memang bermukim ut sekitar 30 kepala keluarga keturunan Cina. Seperti ditulis Pierre Dubois dalam laporannya kepada Residen Besuki tanggal 27 Juni 1831, orang-orang Cina itu kebanyakan merupakan pelarian dari berbagai daerah di Indonesia dan berprofesi sebagai pedagang. Hingga kini masih ada keluarga etnis Cinadi Kuta dan membentuk banjar suka duka Dharma Semadhi
Keterlibatan Lange dalam perkembangan politik di Bali akhirnya membawa imbas bagi usaha dagangnya termasuk bagi pelabuhan Kuta sendiri. Usaha perdagangannya mengalami kemunduran dan Kuta sebagai pusat perdagangan kian merosot. Kapal-kapal dagang banyak yang pindah ke Buleleng dan sebagian lagi ke Padangbai Karangasem . Terlebih lagi tatkala jatuh secatra total ke tangan Belanda setelah peristiwa Puputan Badung 20 September 1906, status Kuta sebagai kota pelabuhan digantikan oleh Benoa. Lange sendiri akhirnya meninggal pada tanggal 13 Mei 1856. Dia dimakamkan dekat rumahnya.

by Sujaya Made

 

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: